Sejarah Candi Borobudur Magelang
Candi Borobudur dibangun pada masa
pemerintahan Wangsa Syailendra di abad ke-9. Pendiri Candi Borobudur berasal
dari Wangsa Syailendra yaitu Raja Samaratungga. Candi Borobudur didirikan dalam
masa kejayaan dan keemasannya sekitar tahun 800 dibawah pimpinan kerajaan
Sriwijaya. Candi Borobudur dibangun diperhitungkan memakan waktu sekitar 75
tahun. Dari bukti yang dikumpulkan Istana Sejaarah terkuak bahwa arsitek Candi
Borobudur bernama Gunadharma, yang berasal dari India. Figur wajah Gunadharma
konon bisa dilihat dari lekuk Bukit Menoreh yang tak jauh dari Candi Borobudur.
Bangunan Candi ini sendiri terdiri dari 6 persegi yang di atasnya terdapat tiga
platform berbentuk lingkaran dan didekorasi dengan 2.672 panel berisi
relief-relief dan patung Budha sebanyak 504 buah.
Borobudur berasal dari gabungan
kata-kata Boro dan Budur, Boro berasal dari kata sansekerta yaitu
''vihara'' yang berarti kompleks candi dan bihara. Sedangkan Budur dalam bahasa
Bali berarti ''beduhur'' yang artinya atas. Jadi nama borobudur
berarti bihara atau kelompok candi yang terletak di atas bukit. Tidak hanya
memiliki nilai seni yang tinggi, karya agung yang menjadi bukti peradaban
manusia pada masa lalu ini juga sarat dengan nilai filosofis. Mengusung konsep
mandala yang melambangkan kosmologi alam semesta dalam ajaran Buddha, bangunan
megah ini dibagi menjadi tiga tingkatan, yakni dunia hasrat atau nafsu
(Kamadhatu), dunia bentuk (Rupadhatu) dan dunia tanpa bentuk (Arupadhatu). Jika
dilihat dari ketinggian, Candi Borobudur laksana ceplok teratai di atas bukit.
Dinding-dinding candi yang berada di tingkatan Kamadatu dan Rupadatu sebagai
kelopak bunga, sedangkan deretan stupa yang melingkar di tingkat Arupadatu
menjadi benang sarinya. Stupa Induk melambangkan Sang Buddha, sehingga secara
utuh Borobudur menggambarkan Buddha yang sedang duduk di atas kelopak bunga
teratai.
Candi Borobudur merupakan salah satu
dari rangkaian tiga buah candi yaitu Candi Mendut, Candi Pawon, Candi Borobudur
yang dibangun dalam satu garis lurus yang dilihat dari atas. Ini melambangkan
urutan prosesi ritual dari Mendut menuju Pawon lalu menuju Borobudur. Ketiga
candi ini memang memiliki arsitektur, seni pahat, kisah relief, serta unit
bangun yang sama dan senada.
Pada tahun 1811 hingga 1816, sejarah
mengenai berdirinya Candi Borobudur kembali terungkap ketika Jawa dikuasai oleh
Inggris. Thomas Stamford Raffles yang saat itu ditunjuk untuk memimpin memiliki
ketertarikan akan sejarah Jawa. Saat ia sedang melakukan inspeksi ke Semarang
pada tahun 1814, ia mendapatkan informasi tentang sebuah monumen besar di dalam
hutan dekat desa Bumisegoro dan ia segera melakukan investigasi dengan mengirim
H.C. Cornelius untuk menyelidiki semua informasi yang dia terima. Pekerjaan
Cornelius terhambat dan terhenti oleh ketakutan akan runtuhnya Borobudur.
Tak lama setelah itu pada tahun 1835 pekerjaan H.C. Cornelius pun dilanjutkan
oleh Hartmann dan akhirnya seluruh komplek Borobudur berhasil digali.
No comments:
Post a Comment