Si Compang-Camping
Di
sebuah rumah besar yang terletak di tepi pantai, hiduplah seorang bangsawan tua
yang kaya raya, yang tidak memiliki istri dan anak yang masih hidup, kecuali
seorang cucu perempuan yang wajahnya tidak pernah dilihatnya seumur hidup.
Bangsawan Tua tersebut sangat membenci cucu perempuannya karena menganggap si
Cucu Perempuan inilah yang menyebabkan kematian anak perempuan yang sangat
disayangi saat melahirkan. Saat perawat akan memperlihatkan sang cucu yang
masih bayi, Bangsawan Tua tersebut menolak bahkan berkata dan bersumpah, apapun
yang terjadi pada cucunya, hidup ataupun mati, dia tidak akan pernah mau
melihat wajah cucunya tersebut.
Lalu dia membalikkan badan, duduk di
dekat jendela sambil memandang ke arah laut, menangisi anak perempuannya yang
telah meninggal, hingga rambut dan janggutnya yang putih tumbuh melebihi bahu
serta mengelilingi tempat duduknya hingga akhirnya menyentuh lantai, dan air
matanya yang menetes turun lewat jendela, membentuk alur pada batu di bawahnya
dan akhirnya menjadi sungai kecil yang menuju ke laut. Sementara itu, cucu
perempuannya tumbuh tanpa ada yang memberikan perhatian, atau memberinya
pakaian yang layak, hanya perawat tuanyalah yang berbaik-hati, dimana saat
tidak terlihat orang lain, kadang memberikan dia sedikit makanan dari dapur,
atau pakaian yang penuh dengan tambalan dan terbuat dari kain karung; sementara
pelayan-pelayan di rumah itu sering mengusirnya keluar dengan pukulan ataupun
ejekan, memanggil dia dengan sebutan si "Compang-camping",
menunjuk-nunjuk kaki dan bahunya yang telanjang, hingga akhirnya sang Cucu
berlari keluar, menangis, dan bersembunyi di semak-semak.
Akhirnya sang Cucu beranjak menjadi
dewasa dengan makanan dan pakaian yang seadanya, menghabiskan lebih banyak
waktunya di luar rumah dengan hanya di temani oleh seorang penggembala angsa
yang pincang. Si Gembala Angsa ini adalah orang yang sangat periang, di saat
sang Cucu kelaparan, kedinginan, atau keletihan, si Gembala tersebut akan
memainkan suling kecilnya sehingga sang Cucu melupakan semua masalahnya dan
akhirnya ikut menari bersama sekumpulan angsa.
Pada suatu hari, orang-orang ramai
membicarakan tentang Raja yang akan melakukan perjalanan melalui tanah dan kota
mereka, dan untuk itu, Raja akan membuat perjamuan dan pesta dansa yang besar
untuk para bangsawan dari negeri tersebut, dan Pangeran, putra satu-satunya,
akan memilih seorang istri dari kalangan bangsawan tersebut. Saat waktunya
tiba, salah satu undangan kerajaan untuk menghadiri pesta dansa sampai ke rumah
sang Bangsawan Tua. Seorang pelayan mengantarkan undangan tersebut ke Bangsawan
Tua yang masih duduk di dekat jendela, terlilit oleh rambut putihnya yang
panjang dan masih meneteskan airmata ke sungai kecil di bawah jendela.
Saat mendengar perintah sang Raja
dalam undangan, dia mengeringkan air mata dan menyuruh pelayan untuk memotong
rambutnya yang panjang. Kemudian dia menyuruh mereka untuk mempersiapkan baju
dan perhiasan yang mewah yang akan dipakainya; lalu dia juga memerintahkan
mereka untuk memberi pelana yang berhiaskan emas dan sutra pada kuda putihnya,
karena sang Bangsawan Tua akan mengendarai kuda bersama dengan sang Raja; Namun
dia sama sekali lupa bahwa dia memiliki seorang cucu perempuan yang bisa dibawa
ke pesta dansa tersebut.
Sementara itu si Compang-camping
duduk di lantai dapur sambil menangis saat mengetahui bahwa dirinya tidak
dibawa untuk menghadiri pesta dansa. Dan ketika perawat tua mendengarnya
menangis, dia lalu menghadap ke Bangsawan Tua, memohon agar bangsawan tersebut
membawa cucu perempuannya menghadiri pesta dansa sang Raja.
Tetapi bangsawan tua itu cuma
mengernyitkan dahi dan menyuruhnya diam; sementara pelayan yang lain tertawa
dan berkata sinis, "Si Compang-camping cukup senang dengan pakaian
tambalannya dan bermain bersama si Gembala Angsa! Biarkan saja dia, karena dia
sudah pantas dengan keadaannya yang sekarang."
Kedua dan ketiga kalinya, perawat
tua tersebut terus memohon agar sang Cucu dapat ikut ke pesta, tetapi jawaban
yang didapatkan adalah tatapan marah dan kata-kata yang kasar, hingga akhirnya
dia dikeluarkan dari ruangan oleh pelayan-pelayan yang mengolok-oloknya dengan
kata-kata kasar disertai pukulan.
Sang perawat tua menangis sedih
karena tidak berhasil membujuk tuannya, berusaha untuk mencari si
Compang-camping; tetapi gadis tersebut telah diusir keluar oleh tukang masak di
dapur, dan mencari temannya si Gembala angsa untuk menceritakan kepedihannya
karena tidak dapat hadir di pesta sang Raja.
Saat Gembala Angsa mendengarkan
kisahnya, dia lalu menghiburnya dan mengajukan usulan agar mereka pergi bersama
menuju kota untuk melihat Raja dan segala hal yang indah-indah; dan ketika si
Compang-Camping terlihat sedih saat memandang bajunya yang terbuat dari
tambalan-tambalan kain karung serta kakinya yang tidak memiliki alas kaki, sang
Gembala memainkan satu-dua lagu dengan sulingnya hingga suasana berubah ceria,
dan si Compang-Camping melupakan semua derita dan air matanya, dan tanpa
disadarinya, sang Gembala telah menarik tangannya untuk menari sepanjang jalan
menuju kota.
"Yang lumpuh pun masih bisa
menari apabila mau," ujar si Gembala Angsa sembari meniup sulingnya.
Sebelum mereka berjalan terlalu
jauh, seorang pemuda yang tampan, berpakaian mewah, berkendara kuda, berhenti
untuk menanyakan arah kastil di mana sang Raja menginap, dan ketika dia tahu
bahwa arah yang mereka tuju adalah sama, sang Pemuda turun dari kudanya dan
berjalan bersama mereka.
"Kamu sepertinya orang yang
menyenangkan dan enak dijadikan teman," katanya,
"Teman yang baik,
pastinya," kata sang Gembala lalu meniup sulingnya dengan nada yang aneh.
Nada sulingnya sangat aneh, dan
membuat sang Pemuda menatap dan menatap terus ke arah si Compang-Camping hingga
dia tidak memperhatikan lagi baju yang penuh tambalan yang tengah dikenakan
oleh si Compang-Camping. Hanya wajah cantik si Compang-Camping yang terlihat
menarik perhatian sang Pemuda.
Lalu sang Pemuda berkata, "Kamu
adalah wanita tercantik di dunia, Maukah engkau menjadi pendamping hidup
saya?"
Saat itu sang Gembala Angsa
tersenyum sendiri dan memainkan lagu yang sangat merdu.
Tetapi si Compang-Camping hanya
tertawa. "Anda salah, sepertinya saya tidak pantas untuk jadi pendamping
Anda," katanya; "Anda akan merasa malu demikian juga dengan saya,
apabila Anda mengangkat gadis seperti saya menjadi istri Anda! Pergi dan
pinanglah salah seorang dari gadis bangsawan yang Anda lihat nantinya di pesta
dangsa Raja, dan tidak usah memperhatikan gadis miskin seperti saya."
Semakin sang gadis menolak, semakin
merdu lagu yang dimainkan oleh si Gembala Angsa, dan semakin dalam jugalah sang
Pemuda jatuh cinta kepada si Compang-Camping; hingga akhirnya sang Pemuda
memohon agar si Compang-Camping berkenan hadir di pesta dansa Raja pada jam 12
malam nanti, bersama dengan Gembala Angsa dan angsa-angsanya, seadanya seperti
sekarang, dengan pakaiannya yang penuh tambalan dan tanpa alas kaki, sebab sang
Pemuda akan membuktikan bahwa dia akan tetap sudi berdansa dengannya di depan
sang Raja dan seluruh bangsawan, sembari memperkenalkan bahwa dia adalah calon
pengantinnya.
Saat si Compang-Camping akan menolak
kembali, sang Gembala berkata, "Terimalah rezekimu yang datang saat
ini."
Saat malam tiba, halaman kastil
dipenuhi dengan cahaya dan suara musik, dimana para bangsawan menari di depan
Raja. Tepat saat jam menunjukkan pukul 12 malam, si Compang-Camping dan si
Gembala Angsa, diikuti oleh kumpulan angsa yang riuh, memasuki pintu besar dan
berjalan lurus langsung ke lantai dansa, sementara di samping kiri dan kanan,
para bangsawan berbisik-bisik sambil tertawa meledek, dan Raja yang duduk di
takhta, menatap dengan tatapan heran dengan pemandangan yang ganjil ini.
Saat mereka tiba di depan takhta,
sang Pemuda yang ternyata adalah Pangeran, bangkit dari kursinya di samping
Raja, dan menyambut si Compang-Camping. Memegang tangannya, lalu berbalik
menghadap raja.
"Ayahanda!" ujarnya.
"Saya telah menentukan pilihan, dan gadis di samping saya inilah pengantin
saya, wanita tercantik dan termanis yang pernah saya temui di dunia ini!"
Sebelum dia selesai berkata, sang
Gembala Angsa meniupkan sulingnya dan memainkan beberapa lagi yang terdengar
seperti kicauan burung di tengah hutan; pada saat itu juga, Pakaian si
Compang-Camping berubah menjadi gaun dan jubah yang indah dan penuh dengan
perhiasan berkilau. Tak hanya itu, sebuah mahkota terpasang di atas rambutnya
yang berwarna emas, dan sekumpulan angsa di belakangnya menjelma dayang-dayang
yang memegang gaun indahnya yang panjang hingga ke belakang.
Saat sang Raja bangkit untuk
menyambut, terompet di bunyikan untuk menghormati sang Putri, Seketika itu pula
orang-orang yang berada di jalan saling bercerita. "Ah, sekarang Pangeran
telah mendapatkan gadis tercantik di seluruh negeri sebagai istrinya!"
Semenjak saat itu, sang Gembala
Angsa tidak pernah terlihat lagi, dan tidak ada yang pernah tahu kemana sang
Gembala Angsa pergi; sementara itu, bangsawan tua terpaksa pulang ke rumahnya
karena tidak bisa menetap lebih lama lagi di kastil akibat sumpahnya untuk
tidak akan pernah mau melihat wajah cucunya.
Sekarang si Bangsawan Tua itu masih
duduk di dekat jendela, menangis dengan teramat sedih. Rambut putihnya tumbuh
terurai hingga ke lantai, dan airmatanya mengalir seperti sungai yang menuju ke
laut.
No comments:
Post a Comment